Katroboy’s Weblog

Nama Boleh Katro… tapi Ilmu nggak donk.. :-P

Benar Ngga Sih Tidurnya Orang Puasa Itu Adalah Ibadah?

Posted by katroboy pada September 23, 2008

Tidur di bulan puasa berpahala?

Tidur di bulan puasa berpahala?

Beberapa hari yang lalu Katroboy dan beberapa teman ‘asyik’ ‘memperdebat’kan masalah apakah benar, dibulan puasa ini tidur itu adalah ibadah alias berpahala? Karena temennya katroboy yang bernama si Udin (red: bukan nama sebenarnya😀 ) kerjaannya di kost-an cuman tidur aja dari habis sahur sampai menjelang buka puasa, paling dia cuman bangun pas Shalat aja. Nah temen katroboy yang satu lagi (katakanlah namanya si Bedu) ‘protes’ ke si Udin, dia bilang “Koq loe kerjaannya sare’ (red: bahasa sunda-nya tidur) wae sih din??”, “Bae we atuhh.. tidur di bulan puasa pan ibadah??!! dari pada gue ngerjain yang ngga2!” balas si udin. Nah lho… bener ga sih??

Akhirnya setelah mencari di web beberapa hari ini, katroboy nemuin di salah satu situs ada tanya jawab antara seorang netter dengan seorang Ustadz. Berikut petikannya:

Saya pernah mendengar orang berkata bahwa tidurnya orang berpuasa itu adalah ibadah. Tapi sampai saat ini saya tidak tahu, benarkah hal itu?

Kalau memang benar, apakah itu merupakan hadits nabi atau bukan? Dan kalau memang hadits nabi, riwayatnya serta statusnya bagaimana?

Terima kasih atas jawabannya ustadz

xxxx@yahoo.com
Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ungkapan seperti yang anda sampaikan, yaitu tidurnya orang berpuasa merupakan ibadah memang sudah seringkali kita dengar, baik di pengajian atau pun di berbagai kesempatan. Dan paling sering kita dengar di bulan Ramadhan.

Di antara lafadznya yang paling populer adalah demikian:

نوم الصائم عبادة وصمته تسبيح وعمله مضاعف ودعاؤه مستجاب وذنبه مغفور

Tidurnya orang puasa merupakan ibadah, diamnya merupakan tasbih, amalnya dilipat-gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.

Meski di dalam kandungan hadits ini ada beberapa hal yang sesuai dengan hadits-hadits yang shahih, seperti masalah dosa yang diampuni serta pahala yang dilipat-gandakan, namun khusus lafadz ini, para ulama sepakat mengatakan status kepalsuannya.

Adalah Al-Imam Al-Baihaqi yang menuliskan lafadz itu di dalam kitabnya, Asy-Syu’ab Al-Iman. Lalu dinukil oleh As-Suyuti di dalam kitabnya, Al-Jamiush-Shaghir, seraya menyebutkan bahwa status hadits ini dhaif (lemah).

Namun status dhaif yang diberikan oleh As-Suyuti justru dikritik oleh para muhaddits yang lain. Menurut kebanyakan mereka, status hadits ini bukan hanya dhaif, tetapi sudah sampai derajat hadits maudhu’ (palsu).

Hadits Palsu

Al-Imam Al-Baihaqi telah menyebutkan bahwa ungkapan ini bukan merupakan hadits nabawi.Karena di dalam jalur periwayatan hadits itu terdapat perawi yang bernama Sulaiman bin Amr An-Nakhai, yang kedudukannya adalah pemalsu hadits.

Hal senada disampaikan oleh Al-Iraqi, yaitu bahwa Sulaiman bin Amr ini termasuk ke dalam daftar para pendusta, di mana pekerjaannya adalah pemalsu hadits.

Komentar Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga semakin menguatkan kepalsuan hadits ini. Beliau mengatakan bahwa si Sulaiman bin Amr ini memang benar-benar seorang pemalsu hadits.

Bahkan lebih keras lagi adalah ungkapan Yahya bin Ma’in, beliau bukan hanya mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr ini pemasu hadits, tetapi beliau menambahkan bahwa Sulaiman ini adalah “manusia paling pendusta di muka bumi ini!”

Selanjutnya, kita juga mendengar komentar Al-Imam Al-Bukhari tentang tokoh kita yang satu ini. Belaiu mengatakan bahwa Sulaiman bin Amr adalah matruk, yaitu haditsnya semi palsu lantaran dia seorang pendusta.

Saking tercelanya perawi hadits ini, sampai-sampai Yazid bin Harun mengatakan bahwa siapapun tidak halal meriwayatkan hadtis dari Sualiman bin Amr.

Iman Ibnu Hibban juga ikut mengomentari, “Sulaiman bin AmrAn-Nakha’i adalah orang Baghdad yang secara lahiriyah merupakan orang shalih, sayangnya dia memalsu hadits. Keterangan ini bisa kita dapat di dalam kitab Al-Majruhin minal muhadditsin wadhdhu’afa wal-matrukin. Juga bisa kita dapati di dalam kitab Mizanul I’tidal.

Rasanya keterangan tegas dari para ahli hadits senior tentang kepalsuan hadits ini sudah cukup lengkap, maka kita tidak perlu lagi ragu-ragu untuk segera membuang ungkapan ini dari dalil-dalil kita. Dan tidak benar bahwa tidurnya orang puasa itu merupakan ibadah.

Oleh karena itu, tindakan sebagian saudara kita untuk banyak-banyak tidur di tengah hari bulan Ramadhan dengan alasan bahwa tidur itu ibadah, jelas-jelas tidak ada dasarnya. Apalagi mengingat Rasulullah SAW pun tidak pernah mencontohkan untuk menghabiskan waktu siang hari untuk tidur.

Kalau pun ada istilah qailulah, maka prakteknya Rasulullah SAW hanya sejenak memejamkan mata. Dan yang namanya sejenak, paling-paling hanya sekitar 5 sampai 10 menit saja. Tidak berjam-jam sampai meninggalkan tugas dan pekerjaan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

——————

Tanggapan Katroboy:

Nah lho… (lagi😀 ) Jadi ungkapan diatas kemungkinannya salah donk ya?? menurut katroboy sih kalau kita pikirkan dengan logika yang jernih dan kita resapi dengan hati yang tulus (ceileee…😀 ), ungkapan tersebut memang ada salahnya dan juga ada benarnya, loh koq?? iya, salah, karena apabila dibulan puasa ini kerjaan kita tidur aja dengan alasan ‘justifikasi’ belaka, daripada kita ngelakuin hal2 yang ga bener lebih baik tidur!, loh, kalau dibalik gemana? dari pada tidur kan lebih baik kita ngerjain hal2 yang berguna dan berpahala! contohnya berzikir plus membaca alquran yg jelas2 pahalanya belipat2, mengerjakan tugas kuliah atau pun membersihkan rumah dan membantu ibu bikin kue lebaran misalnya.. hehehe..😀

Tapi ada benarnya juga koq, setalah kita melakukan hal2 diatas (shalat udah, baca alquran juga udah, bantu ibu juga udah) kan cape tuh, nah daripada kita berendam seharian di bak mandi dengan resiko ketelen air kan lebih baik tidur! hehehehe…. Jadi alangkah baiknya dibulan puasa ini kita memperbanyak amal ibadah, iya kan?

So, menurut teman2 bagaimana?

3 Tanggapan to “Benar Ngga Sih Tidurnya Orang Puasa Itu Adalah Ibadah?”

  1. coekma said

    yang penting niat, kalo bubuk diniati ibadah juga bisa, cuman lebih baik kalo kerja. asal nggak ngabuburit nggak karuan kesono sini …. hehehehe salam kenal

  2. eshape said

    jangan sendiri kalau lagi nganggur [kalau sendiri pasti langsung nggunain ilmu “nyungsep” ke kasur]

    dan jangan nganggur kalau sendiri

    nah, selama hal diatas itu dijalanin, maka pasti dijauhkan dari tidur, kecuali kalau sudah ngantuuuuuuuuk banget [nah ini alasan lain lagi…!:-)]

  3. myrazano said

    selamat hari lebaran. minal aizin wal faizin maaf lahir dan batin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: